Uncategorized

Kondangan Trah

Assalamua’allaikum…

Hai hai apa kabarrrr semuanya ?, wkwk udah kaya jumpa fans aja.

Kali ini aku mau cerita tentang perasaanku kalau lagi menghadiri kondangan trah, tepatnya trah Sastrojemiko. Tapi sebelum aku bercerita about my felling ini, aku cerita dulu ya, siapa itu Trah Sastrojemiko. Trah Sastrojemiko ini merupakan trah keluarga besar bapakku yang tulen orang Yogyakarta. Sastrojemiko sendiri adalah nama Mbah Kakung aku yang dulu dikenal sebagai Mbah Lurah karena memang profesi mbah Kakung dulu adalah sebagai lurah, profesi yang dianggap terhormat di kampung pada jaman dulu.

Mbah Kakung dan Mbah Putri seingatku punya anak sebanyak 12 orang. Namun kini semuanya sudah meninggal termasuk mbah kakung dan mbah putri juga. Tapi ada menantu dari Mbah Kakung Sastro yang sampai saat ini alhamdulillah masih hidup, yaitu Ibuku, alhamdulillahhh…(sehat dan bahagia selalu yah Buu). Bapakku sendiri merupakan anak ke 11 dari mbah Kakung dan mbah Putri (nyebut nama Bapak, jadi kangen sama Bapak, hiksss…)

Kembali ke trah Sastrojemiko saat ini, jadi kalau ada kumpul keluarga trah Sastrojemiko itu artinya yang berkumpul adalah para cucu beserta pasangannya juga cicit cicitnya. Yang mana cicit cicitnya ini juga ada yang sudah mempunyai keluarga. Jadi kebayang betapa besarnya keluarga Trah Sastrojemiko ini jika semuanya benar benar dikumpulkan. Aku sendiri terhitung sebagai salah satu cucu dari mbah Sastrojemiko.

Back to judul, “Kondangan Trah”. Maksudnya adalah kondangan alias hajatan yang di adalah oleh salah satu member dari trah Sastrojemiko (wkwk member, udah kaya di gym aja). Belum lama ini tepatnya di tanggal 21 Desember 2024 kemarin, aku menghadiri kondangan nikahnya anak mbak Is. Mbak Is adalah kakak sepupu aku, beliau adalah kakak sepupu yang paling dekat dengan aku dan beliau adalah anak dari budhe aku. Kondangan ini berlokasi di Klaten.

You know my felling when I heard voice of MC talking with Bahasa Yogya halus ?, air mataku rasanya pengen keluar tapi hanya bisa tergenang di pelupuk mata. Apa sebabnya, karena aku jadi teringat bapakku, hiksss…menulis ini pun jadi bikin berkaca kaca. Aku jadi bayangkan, bapak pasti senang kalau bisa melihat kalau istri, anak anak dan menantunya berusaha tetap menjalin silaturahmi yang baik dengan keluarga besarnya, meski beliau sudah meninggal (Bapakkk…I miss you so much). Karena bapak dari dulu saat masih hidupnya demikian menjunjung tinggi silaturahmi yang baik dengan keluarga besarnya juga. Selain perasaan haru itu, ada juga rasa penyesalan. Penyesalan karena dulu saat bapak masih hidup aku ga belajar sama sekali ke bapak cara berbicara bahasa Yogya, entah bahasa sehari harinya ataupun bahasa kromo inggil juga tulisan Honocoroko. Bapak itu ahli sekali di keduanya. Wong kalau Bapak ngajak bicara mas Jun suamiku yang asli Kediri, Bapak suka memakai bahasa kromo inggil, efeknya mas jun takut salah jawab, jadi mas jun balas pakai bahasa Indonesia, wkwkwk…

Perasaan lainnya, tentu saja rasa senang, bahagia. Bagaimanapun aku belum tentu bisa setahun sekali bisa ketemu dan kumpul keluarga trah Sastro ku itu. Jadi pastinya di kondangan itu kaya semacam wahana menumpahkan rindu juga, however, kami pernah mengalami liburan masa kecil bersama sama. Dari kami masih sama sama duduk di sekolah dasar sampai akhirnya remaja dan masing masing menikah.

Bertemu dan berkumpul keluarga Yogya itu seringkali membuatku merasa terlempar ke masa lalu. Saat liburan panjang sekolah dasar, aku pernah tinggal agak lama di rumahnya Budhe Suyat di Karangnongko Klaten. Mengalami mandi pagi di kolam bersama warga lainnya yang airnya berasal dari sumber mata air langsung. Masih melekat di ingatanku, aku bersama mbak Nanik mandi di kolam bersama itu. mbak Nanik hanya memakai sarung saat mandi. Aku juga pernah main pasir sampai anteng di depan rumahnya. Aku juga pernah disuguhi hidangan berupa singkong hangat yang ditumbuk dengan gula merah di dapur rumahnya yang berdinding batu dan beralas tanah. Atau aku juga pernah jalani liburan dengan tinggal agak lama di rumah mbak Danik. Mbak Danik adalah anak kakak sepupu aku. Mbak Danik punya 2 orang adik yaitu mas Dit dan de Lina. Halaman rumah mbak Danik itu besar untuk ukuranku saat itu. Aku masih ingat berkeliling naik sepeda puterin halaman rumahnya. Atau bersama ayahnya mbak Danik antar de Lina dan mas Dit ke sekolahnya. Aku juga pernah pagi pagi ke pasar dekat rumahnya untuk belanja kebutuhan dapur bersama de Lina. Aku juga pernah liat mas Dit terima kartu lebaran dari penggemarnya yang nggak pengen diketahui identitasnya, dengan dia mengirim kartu ke mas Dit tanpa memberi nama jelasnya hanya berupa kode angka angka saja, wkwkw…

Aku juga masih ingat, saat aku masih SMP dan waktu itu libur lebaran, aku bersama kakak kakakku tinggal lumayan lama di rumah mbak Sri. Aku dan kakak kakakku di ajak main ke beberapa tempat wisata di Yogyakarta. Bareng Mas Agus, Mas Joko, Mas Yanto juga. Kami wisata ke Kaliurang, Museum Yogya Kembali, malam malam berpoto poto di depan Kantor Pos dan tempat tempat lainnya lagi. Betapa semua itu jadi kenangan manis buat aku.

Back to judul lagi setelah out of topic sedemikian jauh, wkwk

Besok, inshaa allah aku akan hadiri pernikahan anaknya mbak Tri di daerah Halim, Jakarta. mbak Tri adalah salah satu cucu dari mbah Sastrojemiko juga. Tapi biasanya karena pernikahan nggak berlokasi di kota Yogya dan sekitarnya, maka hanya sedikit keluarga Trah yang bisa hadir. But however, aku akan senang bertemu dengan keluarga trahku itu. Selalu ada percik binar bahagia dimataku jika bertemu mereka. Semoga perjalanan esok lancar dan selamat hingga tujuan dan pulang kembali ke rumah. Aamiin yaa robbal alamin…

Wassalamu’allaikum…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *