Haji Rahmat
Siapakah Haji Rahmat ?
Haji Rahmat atau biasa aku memanggilnya Mang Rahmat, adalah seorang pekerja bangunan yang sudah keluarga besarku percaya sejak puluhan tahun silam. Masih melekat di ingatanku, waktu itu aku masih sekolah di SD, mang Rahmat udah bekerja dirumah ibu bapak yang berlokasi di Curug.
Awal mula Bapakku mengenal mang Rahmat sekitar tahun 80 an, kisaran antara 87 atau 88 an. Profesi mang Rahmat saat itu masih sebagai tukang sate keliling. Beliau suka jualan sate dengan cara memanggul jualannya, berkeliling komplek perumahan yang dulu kami tempati. Satu waktu menjelang bulan Agustus, Bapakku dan orang orang pada umumnya di jaman itu, suka mengganti pagar bambunya dengan pagar bambu yang baru atau sekedar mengecatnya dengan cat kapur putih.
Bapak waktu itu mendekati mang Rahmat, nah mungkin seperti ini kurang lebih ceritanya, maaf aku ga tau persisnya ya, hehehe..
Menjelang hari kemerdekaan itu, kalau ga salah aku dengar ceritanya, mang Rahmat yang sedang berjualan sate dan mungkin bapakku sedang jadi pembelinya, Bapak bertanya ke mang Rahmat “Mang, bisa nggak ya buatin pagar ?”, lalu mang Rahmat jawab “Bisa, Pak”
Selanjutnya mang Rahmat buatin pagar bambu rumahku. Bapak lihat hasil kerjanya mang Rahmat, nampak bagus dan rapi. Selanjutnya, kalau ada kerjaan kerjaan dirumah yang sekiranya membutuhkan Mang Rahmat, maka Bapak memanggil mang Rahmat.
Skill mang Rahmat tentunya semakin lama semakin bertambah. Dari yang asalnya hanya bisa membuat pagar, seiring waktu, Mang bisa buatin macam macam. Mang Rahmat yang dulu pertama kami kenal belum menikah, sampai akhirnya menikahi teh Siti. Dan hingga kini mang Rahmat udah punya 2 cucu dari 2 orang anaknya.
Mang Rahmat seorang pekerja bangunan yang amat rapih, teliti dan amat amanah. Ibarat kata kembalian belanja material sebesar 500 perak pun, pasti beliau kembaliin pada kami. Memang betul tidak semua pekerjaan bangunan mang Rahmat kuasai dan memang betul juga efek pengerjaannya yang rapi dan teliti itu, mang Rahmat bisa dikata lebih lambat dalam proses pengerjaannya proyeknya.
Tapi di antara semua pekerja bangunan yang pernah kerja dirumah ibu bapak ataupun dirumahku saat ini, mang Rahmat adalah sosok yang paling sreg di hati aku. Keberadaannya dirumah meski aku sedang pergi, tetap aku percaya dan hatiku tetap tenang. Tenang dalam artian walau aku tidak mengawasi pekerjaannya, mang pasti akan tetap bekerja, nggak santai santai aja atau buka buka handphone, juga tenang walau aku nggak ada dirumah, barang barangku akan tetap ditempatnya, karena memang beliau seorang yang amanah.
Usia mang Rahmat kini sudah tak muda lagi. Sudah lebih dari 50 tahun. Tenaganya memang sudah tidak sekuat dulu, tapi kerapihannya dalam mengerjakan sesuatu tetap nomer 1 bagiku.
O iya, perihal panggilan Haji buat mang Rahmat. Panggilan ini diberikan mungkin oleh tetangga-tetangga sekitarnya di kampungnya karena mang Rahmat sudah pergi umroh. Bukan hal aneh bagiku, biasanya memang di pelosok-pelosok kampung itu, seseorang yang sudah pulang dari hajian ataupun sekedar umroh, maka dia mendapat panggilan haji oleh masyarakat sekitarnya.
Nah Mang Rahmat ini pernah diberangkatkan hajian oleh teh Pungki, salah satu orang yang memperkerjakannya seperti aku. Teh Pungki seorang pengusaha sukses dan nyaris setiap tahun dia memberangkatkan beberapa karyawannya untuk umroh.
O iya, mang Rahmat ini seolah pekerja bangunan kepercayaan 3 keluarga besar, yaitu keluarga besar aku, keluarga besar tante Jaya dan keluarga besar tante Tati. Nah teh Pungki itu adalah anaknya tante Jaya. Kabar wownya lagi, Iqbal Ramadhan si pemeran Dilan adalah salah satu kerabat juga dari tante Jaya ini. Dan mang Rahmat saat Iqbal masih kecil, pernah bekerja juga dirumah Iqbal. Jadi saat nama Iqbal sudah ngetop di dunia selebriti Indonesia, di saat banyak penggemarnya ingin berpoto dengan Iqbal, sampai berebutan, Mang Rahmat tidak perlu melakukan itu. Saat Mang Rahmat ke rumah Iqbal dengan istri dan dan anaknya, Ibunya Iqbal memanggil Iqbal “Iqbal, nih ada mang Rahmat pengen poto sama Iqbal”, alhasil dengan mudahnya ada donk poto mang Rahmat berempat dengan Iqbal juga istri dan anaknya, hehehe…sedemikian mudahnya tanpa ada adegan rebutan apalagi antri sama sekali. Cerita tambahan dari mang Rahmat, ternyata mang Rahmat memang pernah kerja di rumah dinas ayahnya Iqbal di Surabaya. Waktu itu ayahnya Iqbal sedang penempatan kerja di Surabaya, beliau mendapat rumah dinas dan ayahnya Iqbal meminta mang Rahmat untuk buatkan garasi mobilnya. Sekitar 20 hari mang Rahmat membangun garasi tersebut. Lebih amazing lagi, ternyata mang Rahmat sudah mengenal keluarga ibunya Iqbal sejak lama, sejak ibunya belum menikah dengan ayahnya Iqbal, jadi mang Rahmat tahu persis Iqbal dari lahir, masih di ayun ayun dengan tali yang di ikat di pohon kersen.
Mang Rahmat dulu sudah terbiasa bekerja di rumah rumah keluarga besar tante Jaya di Jakarta dan Bandung. Mungkin nyaris seluruh keluarga besar Tante Jaya sudah mengenal mang Rahmat.
Satu lagi yang bikin aku sreg sama mang Rahmat, selain hasil kerjanya yang rapih, teliti dan orangnya yang amanah, juga mang Rahmat nggak pernah tinggalin sholat 5 waktunya. Bahkan kalau jam istirahat tiba, mang selalu mengutamakan sholat dzuhur baru makan siang.
Mang, hatur nuhun pisan ya Mang udah banyak bantu ade dan keluarga. Semoga Mang selalu sehat, selamat dan bahagia dunia akherat. Aamiin yaa robbal alamin…